Menjadi "Cina" di Bali


“Oh cucunya Toko Tenang? Dulu Iik pernah tinggal di Klungkung. Itu ya... Ada yang namanya Liang Nio, dulu Iik suka mandi dan cuci baju di sungai sama Liang Nio,” kata seorang Iik, bibi paro baya saat saya mengunjungi rumahnya  untuk riset di Banjar Lampu, Desa Catur. Nama Cina Mama terucap begitu saja, tanpa diduga, berpuluh-puluh tahun kemudian sejak kejadian mandi di sungai itu, dari mulut orang asing di sudut Kintamani. Sebegitu kecilkah dunia? Sebegitu dekatkah jaringan pertautan hubungan antar kaum Cina Bali di pulau ini? 

Tak tega kukatakan padanya bahwa Mama sudah meninggal. Bahwa perempuan muda yang dulu itu ia ajak menyuci baju bersama sudah tiada, dan yang tersisa dari Tjeng Liang Nio hanya kenangan dan seorang anak perempuan yang sedang dalam perjalanan menemukan dirinya. Iik itu dan Banjar Lampu menjadikan proyek riset ini sebuah perjalanan yang sangat personal. 

Sebelum hijrah ke Jakarta untuk kuliah sebelas tahun silam, menjadi Cina Bali adalah sesuatu yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari kami. Perwujudan kami serupa layaknya dengan orang Indonesia keturunan Cina yang lain. Terkadang ada yang lebih gelap sedikit, sehingga sering dijadikan guyonan dan dipanggil Hitachi. Bukan merk TV, namun kependekkan dari Hitam tapi China. Sebagian besar dari kami piawai berbahasa Bali, mengikuti segala tradisi persembahyangan agama Hindu dan beberapa sudah tidak lagi bisa dibedakan mana yang asli Bali ataupun yang keturunan. Mama, misalnya, lebih nyaman berkomunikasi dengan saudara-saudarinya dalam bahasa Bali serta piawai memasak beragam hidangan Bali, yang sayangnya tidak satu pun berhasil saya kuasai. 

Setelah Jakarta, saya belajar bahwa menjadi Cina Bali itu sesuatu yang luar biasa. Bayangkan, tidak pernah ada yang melecehkan saya secara verbal dengan sebutan ‘amoi’ seperti yang saya alami di Tanah Abang. Bayangkan, tumbuh besar di lingkungan yang tidak pernah mengatai saya ‘Cina’ dan membedakan saya karena saya bermata sipit dan berkulit kuning. Bayangkan, betapa istimewanya tumbuh besar menjadi minoritas tanpa menyadari secara gamblang bahwa saya adalah minoritas. Bali memang rumah yang istimewa. 

Tidak pernah saya berhenti bersyukur bahwa semasa hidupnya Mama gemar bercerita. Tentang masa kecilnya di bawah kaki Gunung Agung, tentang masa gadisnya di Klungkung hingga fakta bahwa ia, tidak seperti saudara-saudarinya yang pedagang, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. “Enak punya toko, tiap hari ada uang masuk untuk diputar,” kata Mama dulu, bila sesekali kami pulang kampung ke rumahnya di Klungkung. Kata ‘kampung’ di kalimat sebelumnya, tidak menggambarkan Klungkung dengan sempurna. Klungkung telah menjadi kota, walaupun masih dalam skala yang lebih kecil bila dibandingkan dengan Denpasar. Kebetulan, Papa bukan pedagang. Kisah hidup Papa, bila diceritakan, akan menjadi bab tersendiri. Singkat kata, tidak seperti sepupu-sepupu saya di Klungkung, saya tumbuh besar tanpa toko. Tanpa mengenal rutinitas buka toko, tutup toko maupun jaga toko. Kata mutiara Mama yang selalu ia dengungkan bila saya bangun siang (“Bangun siang, rejekinya habis dipatok ayam”) menjadi tidak bermakna saat tidak ada ayam untuk diurus atau toko untuk dibuka. 

Mama tidak tahu banyak tentang kisah kakek dan nenek buyut. Sayangnya, tidak ada sumber tertulis. Semua sudah dibuang atau berlalu seperti angin. Hanya ada foto hitam putih tua yang kami sembahyangi di meja abu. Hanya ada sepetik kisah atau sekilas kenangan. Tidak ada lagi tetua yang bisa menjelaskan riwayat atau asal muasal kakek gemuk yang bermata tajam dan istrinya yang kecil keriput di meja abu. Sejarah itu dulu tidak memiliki makna. Namun, seiring usia dan seiring tumbuhnya keingintahuan akan ke-Cina Bali-an saya, saya menyesali fakta bahwa banyak leluhur saya tidak menganggap sejarah keluarga itu sesuatu yang penting. Jadi sekarang yang saya punya hanya serpihan. Perlahan, semoga saya bisa mengumpulkan serpihan-serpihan itu dan menjadikannya utuh. 

Kami, Cina Bali, ini sungguh istimewa. Kami “diizinkan” untuk tetap ada. Saat rezim Orde Baru memberangus apapun yang berbau Cina (kecuali menguntungkan untuk penguasa), kami di Bali tetap bisa meneruskan tradisi dan kepercayaan kami. Kami tetap bersembahyang ke Klenteng ataupun Kongco, merayakan Imlek (walaupun tanpa gegap gempita pawai barongsai dan petasan) dan bekerja seperti Warga Negara Indonesia selayaknya. 

Balichinesia, riset dan dokumentasi mengenai keistimewaan kami, kaum Cina Bali ini kemudian menjadi penting.  Balichinesia lahir dari sebuah pertanyaan sederhana yang diajukan Dicky Lopulalan kepada saya, saat kami ngobrol santai di rumah. “Kamu punya buku tentang budaya Cina Bali?”, tanya Dicky saat itu. Saya berpikir sejenak, berusaha membongkar memori koleksi buku di otak saya. Tidak ada, jawab saya. Ada buku tentang Cina di Jawa, Batavia bahkan Sumatra, tapi tidak tentang Cina di Bali. Kami terdiam. “Bagaimana kalau kita yang tulis?,” ajak Dicky. 

Akhirnya. Akhirnya, cita-cita terpedam saya dijawab oleh semesta. Cita-cita yang sejak kuliah dulu sempat tercetus namun terlupakan karena ada banyak urusan yang lebih mendesak dan tanggung jawab yang harus didahulukan. Bila Dicky memiliki kenangan perih tentang tumbuh sebagai minoritas di Kalimantan, saya justru sebaliknya. Semua kenangan yang saya miliki adalah kenangan yang indah. Minoritas? Saya tidak pernah merasa menjadi minoritas.  

Balichinesia adalah usaha kami untuk bercerita bahwa di Indonesia ini ada satu tempat dimana menjadi minoritas adalah sesuatu yang biasa. Minoritas apa? Semua sama. Semua hidup dalam damai, berdampingan dan bertetangga, seperti Si Unyil dan Melani di Desa Sukamaju. Semoga di tahun Kuda ini, yang konon sesuai untuk kerja sama dan kolaborasi, Balichinesia berhasil kami wujudkan.  Untuk saya pribadi, untuk Cina Bali agar menyadari keistimewaan dirinya, untuk Bali agar keindahan multikulturalisme ini selalu terjaga dan untuk Indonesia, agar menyadari bahwa Bhinneka Tunggal Ika itu bukan hanya ada di kaki burung Garuda namun hidup dan nyata di antara kita.

23 komentar:

Anonymous said...

Bagus banget

Inten Utari said...

wow, baru kemarin aku membicarakan tentang kaum minoritas Cina di Jogja sama temenku keturunan Tionghoa, dan aku ngerasain sebagai orang Bali, aku dan komunitas CIna di Kampungku ya temenan biasa, saat SD,SMP kita ga sadar mereka "berbeda" ya udah gitu aja, bahkan kalo ada Imlek kan da ujan atau petir kita pasti bilang oh sekarang Galungan Cina jadi bagus kalo ujan artinya rejeki melimpah (Galungan hari raya Hindu di Bali), pengaruh Hio (Dupa) yang ada di Bali kan datangnya dari pengaruh datangnya Cina, termasuk ukirannya, coba aja liat cerita Barong Landung (boneka tinggi perempuan Cina dan Lelaki Bali) kan ceritanya berdasarkan perkawinan dua etnis, Bali dan Cina yang sampai ada di Pura (tempat sembahyang), bahkan yang aku liat temen temenku yang keturunan Cina Bali dari Tabanan, Klungkung, Gianyar, Denpasar, Buleleng, udah jadi Bali banget, pinter pnter bikin canang (sesajen)....kalo ada selentingan yang menyinggung ya emang dasarnya orangnya kali ga sesisitif atau pikirannya yang kurang dibuka, tapi aku seneng kalo ga ada rasisme yang terjadi di tanah kelahiranku, mudah mudahan jangan ada, dan bagi mereka yang mengalami trauma masa lalu bisa recover dan perubahan terjadi

SapiMalas said...

Terima kasih comment-nya Inten. Menyenangkan jadi nak Bali ya? Semoga kisah kita bisa menjadi inspirasi di daerah lain di Indonesia.

Jogja 34 K said...

Selamat menyusuri dan menyusun kembali, meminjam Leila s. Chudori, gudang sejarah yang berantakan. Tapi memang sih, Bali itu istimewa dalam memperlakukan minoritas.

SapiMalas said...

Kak Andi Fachri mampir? Duh aku terharu. Mohon doanya ya bro, gudangnya berantakan bangets euy.

ita gatot said...

SUPERB!

Anonymous said...

Saya pun sbg tionghoa di Manado, bahkan di Sulut pd umumnya, semasa kecil tidak merasakan "abnormalitas" sebagai seorang chinese.
Exposure thdp kebencian xenophobia baru sy alami ketika waktu SD jalan-jalan ke jakarta dan dikatai "cina!" oleh orang yg berpapasan di jalan.

Keluarga kami sejak dulu tdk merayakan tahun baru imlek, hanya natal & tahun baru. Bahkan konsep angpau saja terasa asing bagi saya.

Doakan kami yang kebanjiran di Manado, doakan daerah damai seperti Bali dan Sulawesi Utara agar tetap damai.

Anonymous said...

Bali memang istimewa.. semoga bisa ditiru di daerah lain.

nyoman selem said...

sangat ditunggu bukunya! top banget eve...

Anonymous said...

Bukunya ditunggu

aaron setiawan said...

Wah damainya kehidupan di Bali. Saya yang keturunan tapi berkulit agak gelap aja waktu kecil dihajar sama anak2 yang tidak saya kenal gara2 keturunan Cina.
Salut deh dengan keragaman di Bali yang rukun. :)

Lcr said...

Kabari aku bila bukunya sdh jadi cik! Yew!

jfdboma said...

Cina Bali memang unik, lapor...saya satu2nya cina bali yang kini tinggal di nusa penida...hehehehe

thank you tulisannya inspiring...ditunggu bukunya...salam buat bung dicky!

Anonymous said...

Mau lagi Mbak Eve!!! :)

Can't wait for the book!

SapiMalas said...

Terima kasih untuk supportnya, rekan-rekan semua. Saya masih dalam tahap riset saat ini, jalan yang harus ditempuh masih panjang.

Namun melihat respon teman-teman, saya merasa ini akan menjadi jalan yang menarik dan menyenangkan.

jfdboma, bila membaca comment ini, mohon hubungi saya ya lewat e-mail ke eve.tedja@gmail.com

Anonymous said...

Tulisan yang bagus, bukan karena saya orang bali, atau berasal dari klungkung, tapi ini seperti menyentak saya, seperti dibawa lagi menyusuri mesin waktu. Mengingat teman-teman saya yang keturunan, dan bagaimana kami bergaul, bagaimana lingkaran pertemanan kami. Lewat gaya bertutur anda, saya jadi ingat kalau mereka cina, yah, dan it's ok.. Perjalanan kami, meniadakan etnis, saya sampai lupa kami beda saking nge-blend nya.. Hehehe.. Itu juga yang membuat saya bingung melihat kondisi berbeda di beberapa daerah, dimana perbedaan jadi runcing dan tajam karena pihak tertentu. Saya bingung dan tidak bisa memahami kenapa diskriminasi bisa muncul disana. Mungkin karena saya dibesarkan di bali? Entah..
Tapi saya tunggu bukunya.. :)

Anonymous said...

saya telah mengirimkan email saya ke mbak dan di sini saya telah bercerita mengenai artikel anda ini.

terimakasih banyak ya mbak untuk artikel anda ini.
sungguh cita2 anda yang termuat melalui artikel ini, juga sesungguhnya merupakan salah satu cita2 saya pula.
dan puji syukur kepada tuhan yang maha esa (ida sang hyang widhi wasa), melalui mbak, cita2 saya mulai terealisasi.
mungkin saya akan sangat berhutang budi terhadap mbak karena artikel ini (maaf bukan bermaksud melebih2kan ya, ^_^).

sekali lagi, matur suksma ya mbak. :)

legalgetaways101 said...
This comment has been removed by the author.
Indonesian Chinese Food said...

can i share about my family's history as chinese in singaraja?

johannes Kitono said...

Wow, salam kenal dan cerita yang menarik.Saya orang Tionghoa asal Sanggau,Kalimantan Barat dan IGA Laksmita , isteri saya berasal dari Belayu Tabanan.Otomatis anak 2 saya akan menjadi Chinese-Bali yang kebetulan lahir di Jakarta semuanya. Pada bulan Juni 2016 ,Saya dan Arya,anak kedua sudah ke Pura Dalem Balingkang dan bertemu dengan masyarakat Chinese Singaraja yang sedang sembahyang dan ciam sih di Palinggih Permaisuri Kang Cing Wie.Ketika pulang melewati dengan Song An atau Nongan yang jalannya belum mendapat perhatian Pemda padahal merupakan " aset istimewa " bagi penggemar Wisata Sejarah. kalau ada cerita cerita baru tentang sejarah komunitas Chinese Bali tolong diemailkan ke j.kitono@gmail.com.Thx, jeka

Bagus Susilo said...

Wach, ternyata putrinya Nio, ya..? Masih lekat diingatan saya, waktu masa kecil saya, Nio dulu sering ke rumah saya di Blahbatuh dengan membawa jajanan/kue yang sudah pasti enak dan disukai oleh keluarga saya. Sering juga saya ikut alm. Bapak ke Klungkung dan pasti mampir ke rumah Nio juga. Biasanya Nio minta disuntik biar sehat (karena Bapak saya juga berpraktik sebagai mantri, meskipun saat menjadi Perbekel sekalipun).

Saran saya, jika ingin menuliskan sejarah Tionghoa - Bali, ambil pokoknya di Kintamani (Balingkang dan sekitarnya). Atau ambil sumbernya, boleh mengajukan permintaan resmi ke Leiden University Library atau Royal Library of The Netherlands (Koninklijke Bibliotheek). Karena di dalamnya banyak tersimpan sejarah Bali/Indonesia di sana.

Bagus Susilo said...

Oh Ya.. boleh juga dilihat pada artikel ini;

"The Hainanese of Bali : A Little Known Community [article]
sem-linkClaudine Salmon sem-linkMyra Sidharta
Archipel Année 2000 Volume 60 Numéro 4 pp. 87-124"

http://www.persee.fr/doc/arch_0044-8613_2000_num_60_4_3582

Langit biru said...

saya tionghoa jakarta kelahiran riau, pengen satu hari hijrah ke bali, tempat yang adem yang tidak ada rasisme dan intoleransi.

Salam

 

Popular Posts

follow my journey

Hello! I’m Eve Tedja

I have been a professional writer for four years.


During that time, I have worked as a permanent contributor for Let’s eat! Magazine, Hello Bali, epicure, and published my articles in several other magazines like Venture, Panorama, Bravacasa, and Bali & Beyond.


Words, sentences, stories... these are my passion. I love to take new challenges in writing for various format and media. I create contents for websites, blogs, and communication materials. I’ve also worked as a copywriter, translator, coffee book editor, social media coordinator, media consultant, and even writing for a specialty coffee packaging.


Interior design, travel, environment, culinary, culture, history, and social issues are some of the themes that I have worked with in the past. I love getting involves with individuals, companies, organizations, and communities with stories to tell.


I am available for assignment worldwide. Reach me at eve(dot)tedja(at)gmail(dot)com.

Category

bali (39) bangkok (1) book (41) china (4) culture (3) food (10) germany (1) hongkong (1) indonesia (16) jakarta (4) japan (3) museum (6) paris (3) penang (2) poem (3) portfolio (5) singapore (1) srilanka (1) traveling (33) vietnam (3) writing (9)