Tokyo Love Story Part I







Berulang kali, aku menekan tombol ‘on’ untuk mendengar lagi kicau burung dan gemericik air yang automatis bermain di kubikel toilet ini. Sungguh, sepemalu itukah orang Jepang sehingga mereka harus menutupi suara alami tubuh yang prosesnya hanya memakan waktu beberapa menit? Tapi, sungguh dari kubikel-kubikel sebelah, benar yang terdengar hanya suara mekanis burung dan air. Setelah memastikan semua urusan terbilas tak bersisa,aku meninggalkan toilet dengan dudukan hangat itu dan sungguh sangat siap untuk menginjakkan kaki di Tokyo. 

Udara dingin menyambut kami tengah malam itu. Hotel kami hanya 15 menit dari Haneda, dipilih karena resiko untuk mengejar kereta ke tengah kota terlalu tinggi sementara harga taxi di kota ini terkenal bisa membuat dompet langsung kosong. Otaku adalah daerah suburban yang tenang. Tanpa ba-bi-bu, kami menyerbu convenience store terdekat. Sesuai dengan namanya, 7-11 Jepang pertama kami sungguh menawarkan kenyamanan dan saudaranya, kekenyangan. Aku harus mati-matian menahan adikku agar tidak membeli semua jenis onigiri yang dipajang di lemari pendingin. Pun, ia mati-matian menahanku untuk tidak membeli semua jenis bir Jepang yang di negaranya menjadi sungguh sangat murah. Asahi, hai!

 
Ini petualangan kami yang kedua, kakak beradik yang memutuskan bahwa siblings that travels together, sticks together. Bergegas, kami masuk ke kamar dan melampiaskan kerakusan kami. Tepat tengah malam itu, adikku berulang tahun yang ke-29. Tahun terakhir dimana ia bisa mengejekku yang sudah duluan berkepala tiga. Kami bersulang dengan bir dingin dan dorayaki, persis seperti yang kami dulu angankan kalau ke Jepang. 

Apabila kamar hotel adalah cerminan suatu negara, maka bisa dikatakan bahwa Jepang adalah negara yang bersih, efisien, mungil , estetik dan didesain dengan pemikiran form follows function. Betapa tidak, di dalam kamar sekecil itu seluruh kebutuhan agar tamu bisa tidur dengan nyenyak terdesain dengan baik. Piyama katun yang nyaman, check. Slipper, check. Alarm, check. Hair dryer, check. Bahkan senter, seandainya ada situasi darurat, ditempatkan dengan tepat di dekat ranjang. Lampu satu kamar bisa diredupkan atau dimatikan dengan hanya satu tombol di kepala ranjang. Besar atau kecilnya ruang bukan menjadi alasan untuk menghilangkan kenyamanan. 

Setelah rangkaian penerbangan yang panjang dengan maskapai kecintaan para budget traveller Asia itu, kami tertidur pulas seperti dua bayi besar malam itu. 

***

Tentu saja, pada hari kedua kami disambut oleh hujan rintik. Aku ingin makan nasi buat sarapan, kata Adik. Maka sebagai kakak yang baik, aku menurut saat ia mengajakku masuk ke depot kecil di dekat stasiun kereta. Hari itu adalah hari ulang tahunnya, satu-satunya hari dimana aku menuruti semua titah sang baginda kaisar maha mulia. Hari lain? Enak saja!
Kami disambut oleh seorang nenek yang langsung mempersilakan kami duduk di kursi kayu.  Meja kami melingkari area dapur terbuka, dimana sang chef langsung menunduk sopan dan mengulurkan kami English menu. 

Si nenek yang dari segi usia kemungkinan besar adalah ibunya, menuangkan kami dua gelas air dingin. Lantas, ia duduk dan menunggu dengan sabar sementara sang chef mulai memanaskan wajan hitam di atas kompor. Kami terpesona dengan kesungguhannya memasak. Tidak ada kata ‘sekedar’ di dalam kamusnya. Ia mengocok telur, menggoreng nasi dan memanggang daging burger sapi dengan sempurna. Dengan khidmat, ia menyajikannya kepada kami berdua yang masih ternganga. Lantas, ia berbalik dan membersihkan penggorengan, mangkuk dan alat-alatnya. Hamburg steak dan nasi goreng yang ia sajikan rasanya sederhana, tapi sungguh sangat hangat. Belum usai kami terpana, tamu lain masuk dan menerima sambutan serupa. Setelah menerima pesanan, sang chef kembali mengulangi lagi seluruh langkah yang tadi ia lakukan. Luar biasa! Ngga heran kalau Jepang menjadi negara paling maju di dunia. Tukang masak di depot aja masaknya berdedikasi begitu, kata Adik. 

Kami ternganga lagi saat membeli payung di Lawson. Kasir ABG yang melayani kami menanyakan kami sesuatu dalam bahasa Jepang. Tidak sepatah kata pun kami dengar familiar. Setelah usaha ketiga dengan bantuan bahasa tubuh dan telepati, barulah kami mengerti. “Mau digunting tidak pengikat payungnya agar bisa kalian segera pakai?”. Gitu maksudnya. Kok rasanya tidak mungkin kasir di Indomaret bisa sepengertian itu, pikirku dengan masih terpesona. 


Masih dalam rangka perayaan ulang tahun, kami menuju Odaiba. Agak sedih sebetulnya karena pagi pertamaku di Tokyo dihabiskan bukan dengan berburu pohon sakura atau menyusuri Asakusa. Oh tidak, kami memulai hari dengan berziarah ke situs para geek sedunia: replika robot Gundam! Peziarah dari seluruh dunia dengan penuh suka cita memandang robot setinggi 18 meter itu. “Kalau Gundam beneran ada, dia bakal setinggi itu!” teriak Adik yang seketika kembali berusia 8 tahun lagi. Tentu untuk dia yang sudah berkali-kali merakit robot Gundam plastik dan mengecatnya sepenuh hati, robot raksasa ini pasti menjadi pengalaman yang magis. 

Malam itu, kami bakalan pindah ke apartement AirBnB di daerah Koenji. Ujung ke ujung, bila dilihat di peta kereta Tokyo yang rumit seperti bihun goreng kusut aneka warna. Bersama koper, kami harus berganti kereta beberapa kali dan tersesat di stasiun Shinjuku yang memiliki belasan jalur kereta. Sungguh tantangan yang melelahkan, kalau kata para korban di Takeshi Castle. 

Tapi seluruh lelah langsung menguap saat kami tiba di Koenji. Host AirBnB kami menjemput di stasiun dan dengan ramah mengantar kami ke apartemen serba putih yang menjadi rumah kami untuk dua hari ke depan. Sungguh, Koenji benar-benar daerah yang muda dan menyenangkan. Dihuni para hipster, memiliki toko-toko mungil yang berkarakter, banyak izakaya alias bar dan berbagai restaurant yang buka sampai larut malam. Koenji seolah menjadi tempat dimana orang Tokyo bisa let go.
 
***

Yoko adalah seorang teman yang dikenalkan ke kami oleh seorang teman di Osaka. Periang dan ramah. Ia guru TK dan gemar membuat aksesoris di waktu luangnya. Segera, kami menemukan banyak kesamaan. Kami penggemar art and craft dan stationery. Ajak kami ke tempat-tempat yang kamu sukai, pinta kami ke Yoko. 

Meiji Jingu dan Yoyogi Park kami kunjungi di hari Minggu itu. Ada tiga pasang pengantin menikah saat kami datang. “Kamu beruntung! Ini hari yang baik sehingga banyak orang menikah hari ini!” ujar Yoko. Ternyata orang Jepang pun menikah dengan tanggalan hari baik. Kami membawa kue dan kopi panas ke Yoyogi Park. Impianku untuk ber-hanami atau piknik sambil melihat sakura bermekaran belum juga terwujud. Pohon-pohon sakura masih belum bangun dari musim dingin yang panjang. 




Ada banyak sekali aktivitas yang berlangsung di taman sore itu. Ada tiga aktor drama yang sedang berlatih lakon guru dan murid. Ada sekelompok ABG berlatih menari. Yang agak absurd adalah pemandangan peniup saxophone yang berlatih dengan merdu sementara tak jauh di sebelahnya, ada pria paro baya yang entah kenapa, menemukan kebahagiaan dengan meniupkan gelembung sabun kemana-mana. Toh, tidak ada yang merasa itu aneh. Semua orang mendapat tempat di Yoyogi Park, termasuk komunitas rockabilly hardcore yang dengan genggesnya membawa speaker, memutar musik rock n’ roll keras-keras dan berjoged rame-rame dengan semangat. Asyik deh pokoknya Yoyogi Park. Beruntung sekali para penduduk Tokyo bisa memiliki ruang untuk berekspresi seperti itu. 


Tentu saja, kami menunaikan kewajiban kunjungan perdana kami di Tokyo seperti turis selayaknya. Harajuku, Shibuya Crossing hingga Hachiko pun kami datangi. Tapi, sungguh Tokyo yang ada di benakku kini adalah mereka yang bermain-main di Yoyogi Park tadi.

0 komentar:

 

Popular Posts

follow my journey

Hello! I’m Eve Tedja

I have been a professional writer for four years.


During that time, I have worked as a permanent contributor for Let’s eat! Magazine, Hello Bali, epicure, and published my articles in several other magazines like Venture, Panorama, Bravacasa, and Bali & Beyond.


Words, sentences, stories... these are my passion. I love to take new challenges in writing for various format and media. I create contents for websites, blogs, and communication materials. I’ve also worked as a copywriter, translator, coffee book editor, social media coordinator, media consultant, and even writing for a specialty coffee packaging.


Interior design, travel, environment, culinary, culture, history, and social issues are some of the themes that I have worked with in the past. I love getting involves with individuals, companies, organizations, and communities with stories to tell.


I am available for assignment worldwide. Reach me at eve(dot)tedja(at)gmail(dot)com.

Category

bali (39) bangkok (1) book (41) china (4) culture (3) food (10) germany (1) hongkong (1) indonesia (16) jakarta (4) japan (3) museum (6) paris (3) penang (2) poem (3) portfolio (5) singapore (1) srilanka (1) traveling (33) vietnam (3) writing (9)