Tokyo Love Story Part II






Berkunjung ke museum adalah satu keharusan apabila aku mengunjungi suatu negara. Tidak ada jalan pintas yang lebih baik daripada menghabiskan beberapa jam di museum sebagai cara untuk mengenal suatu budaya. Tokyo mempunyai ratusan museum, dari museum transportasi hingga museum khusus untuk shunga (baca: woodblock print erotis yang menggambarkan pasangan dalam beragam posisi a la Kamasutra, dari yang umum hingga yang kinky seperti perempuan yang bersenggama dengan ubur-ubur. Hentai pasti inspirasinya dari sini.) Tentu saja, kami melewatkan museum yang  terakhir. Ngga serulah menikmati yang aduhai begitu sama Si Adik. 
 
Bersama Yoko dan temannya, kami mengunjungi Edo-Tokyo Museum. Arsitektur museumnya sendiri sungguh futuristik, serupa percampuran hanggar raksasa untuk robot Gundam dan atap kuil Jepang. Museum ini memiliki pameran permanen yang bercerita tentang sejarah Tokyo, dari periode Edo  atau Tokugawa yang menerapkan isolasi dari dunia luar ke era Restorasi Meiji yang terbuka hingga ke era kontemporer sekarang.
Pameran dimulai dengan cukup dahsyat. Replika jembatan kayu Nihonbashi dibangun dengan dengan ukuran yang sebenarnya, memisahkan dua periode yang berbeda: Tokyo pada era Tokugawa yang masih memegang teguh budaya dan tradisinya, dengan periode Meiji yang sudah ‘kebarat-baratan’. Belum mulai pun, hati museum geek ini sudah berdebar-debar. 

Periode Edo atau Tokugawa cukup familiar bagi kami berdua yang gemar membaca buku komik Jepang. Kisah hidup para samurai, shogun dan daimyo, serta rakyat biasa diceritakan lewat infografis, diorama, maket kota, koleksi pedang, kostum dan artefak. Tidak lupa, ada sudut-sudut humanis untuk para pengunjung berpose. Si Adik yang suka merengek kalau diseret ke museum pun menikmati sekali pameran di sini. 

Salah satu bentuk ilustrasi yang paling aku suka, ukiyo-e atau teknik cukil kayu, langsung menyedot perhatianku. Teknik cetak untuk menggandakan ilustrasi bertemakan pemandangan dan kehidupan sehari-hari ini sungguh berjaya di periode Edo. Gradasi kekayaan warna dan detailnya sungguh indah tiada tara. Ukiyo-e adalah kesenian rakyat. Aplikasinya luas, dari gambar pin-up para aktor dan geisha terkenal hingga ya itu tadi, ilustrasi erotis menjurus porno alias shunga yang sayangnya (ya iyalah) tidak dipamerkan di sini. 


Ada pula, replika toko penyewaan buku zaman dulu, yang tentu saja berhasil membuat kutu buku ini terpana. Tercatat bahwa pada tahun 1808 di Edo saja, terdapat 656 toko penyewaan buku. Kecintaan membaca di Jepang ternyata sudah sedemikian tua. Para pengusaha penyewaan buku itu cukup subversif dengan terkadang mengantarkan buku-buku yang terlarang dan ditulis tangan ke pelanggan-pelanggan tertentu. Lain lagi dengan kisah tentang para Kawara Ben, atau penjual koran lipat. Mereka biasanya menjual korannya di tempat-tempat yang ramai, dan seperti pengamen, bernyanyi dulu untuk mengumpulkan massa. Yang menarik, mereka menggunakan topi anyaman yang menyembunyikan wajah mereka dari pihak berwenang, karena sering kali koran-koran itu memiliki informasi sensitif tentang pemerintah dan militer. Badass!
 
*** 

Once upon a time... atau tepatnya, sembilan tahun yang lalu, ada seorang mahasiswi jurusan Desain Interior yang memiliki mimpi besar. Untuk  Tugas Akhir-nya di bangku kuliah, ia memutuskan dengan imajinasinya yang liar, mendesain sebuah museum yang didedikasikan untuk Jakarta. Para dosen pembimbingnya yang baik hati dan budi, tidak pernah mengatakan kepada mahasiswi ambisius ini bahwa ia bermimpi terlalu besar atau membidik sasaran yang terlalu tinggi. Malah, mereka mendukungnya dengan sepenuh hati. Mungkin mereka tahu, itulah tahun terakhir seseorang masih boleh bermimpi seliar-liarnya, segila-gilanya. 

Jadilah pada tahun 2007, mahasiswi itu mendesain sebuah harapan untuk Kota Jakarta. Ia namakan museum fiktif itu, Jakarta Heritage Museum. Lokasinya, tentu saja di Museum Gajah! Gedung klasik cantik dari tahun 1862 dan saksi sejarah Jakarta itu sungguh sempurna sebagai lokasi pameran narasi sejarah dan budaya Jakarta. Ia pergi  ke Singapura untuk melakukan studi banding serius dan mengunjungi museum-museum di sana. Ia membongkar perpustakaan di kampusnya, membaca semua yang harus dibaca tentang pengelolaan warisan budaya, museulogy dan aspek teknis desain pameran. Ia bahkan berkeliling Jakarta, mengikuti tur di kota tua hingga mengunjungi kuburan untuk membaca nisan-nisan dari zaman Belanda. Selama enam bulan itu, ia tidur larut, menegak bergelas-gelas kopi dan dengan setia berpacaran dengan program AutoCad di PC-nya. Tapi, nyaris tidak pernah ia merasa sebahagia itu. 

Jakarta Heritage Museum selesai pada pertengahan tahun itu. Sebuah tribute untuk kota yang pernah bernama Sunda Kelapa dan Batavia; sudah dijajah oleh Portugis dan Inggris serta dikuasai Belanda; dipengaruhi oleh berbagai macam saling silang budaya dan hingga sekarang, tetap carut marut namun selalu mengasyikkan. Kamu bisa menyebut Jakarta  dengan kata sifat apapun, tapi ‘membosankan’, tidak akan bisa digunakan untuk mendeskripsikan kota itu. 

Aku jadi membuka-buka kembali buku konsep tua yang dulu pernah kubuat. Visi museum-nya dong mana tahan:

“Menjadikan Jakarta Heritage Museum sebuah lembaga pelestarian budaya yang mampu mewujudkan masyarakat yang mengetahui, bangga, dan mencintai warisan budayanya sehingga terwujud kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan bersatu”

 Sungguh itu AKU, sembilan tahun yang lalu. Big dreamer sejati. 

Aku bagi ruang-ruangnya sesuai dengan timeline sejarah Jakarta. Dimulai dengan era Sunda Kelapa, lalu Kedatangan Bangsa Asing (lengkap dengan replika kapal kayu galleon yang bisa dinaiki pengunjung) yang menjadikannya Batavia. Era Batavia seru sekali untuk didesain! Aku masukkan kekayaan empat komunitas yang mendominasi dan berpengaruh: Belanda, Arab, Cina dan Betawi. Lantas, berlanjut ke perkembangan kontemporer Kota Jakarta yang sarat dipengaruhi politik. Di ruangan akhir yang aku namakan “Jakarta adalah...”, aku desain untuk menjadi sebuah ruang kontemplatif dimana asumsinya, pengunjung yang kini sudah lebih mengenal kota Jakarta, diberikan ruang untuk berpikir, menyimpulkan dan mendefinisikan Jakarta secara personal. Ciee banget deh pokoknya mimpiku terhadap museum ini. Selesai kuliah, tentu saja mimpi itu tidak padam. 

***

Kunjunganku ke Edo -Tokyo Museum mengingatkanku kembali ke Jakarta Heritage Museum. Membakar lagi keinginanku untuk melanjutkan kuliah di bidang heritage study (beasiswa, anyone?) dan kesedihanku, bahwa bahkan hingga sekarang negara ini belum punya museum seperti itu. Tidak heran, penduduknya mudah amnesia, gamang, suka galau dan gampang sekali dialihkan perhatiannya. Sejarah itu bagian dari identitas diri, entah disadari atau tidaknya. Ia membentuk manusia, aku dan kamu, bahkan hingga sekarang.
Tahukan kamu siapa yang banyak berkunjung ke Edo Tokyo Museum hari itu? Orang Jepang sendiri! Iya, mereka dengan serius mempelajari dan menelaah informasi yang dipamerkan di museum. Terasa, bangga betul mereka dengan identitasnya. 



Kami termasuk rombongan pengunjung terakhir yang meninggalkan museum. Barulah terasa betapa lelahnya kaki ini berdiri dan berjalan selama beberapa jam. Yoko mengajak kami  untuk ngopi ke salah satu chain cafe semacam J.Co. Dengan santai, kami duduk dan berbincang. Ia juga dengan sabar mengajariku yang bertangan kiri dua ini membuat origami berbentuk burung. Malam itu adalah malam terakhir kami di Tokyo.
 
Sungguh belum puas rasanya. Si Adik, bahkan pada hari pertama, sudah memutuskan bahwa ia akan kembali lagi dan lagi ke kota ini. Aku setuju. Bagaimana kami tidak jatuh cinta dengan Tokyo, saat kota ini menawarkan begitu banyak hal menarik? Berjalan kaki keliling kota pun sudah menjadi pengalaman visual yang begitu seru. Beberapa kali kami menjumpai dompet atau HP yang tergeletak di tempat umum karena pemiliknya kelupaan atau terjatuh. Tidak ada satu orang pun yang mengambil. Dan, ini Tokyo! Kota terpadat di dunia, dengan populasi  13 juta orang di area yang hanya seluas 2.188 km2. Itu berarti secara kasar, ada sekitar 6.000 orang yang harus berbagi ruang di area seluas 1 km2! 

Nyaris tidak ada suara klakson, teriakan, kemarahan, dorong-dorongan atau ketidaksabaran. Semuanya bergerak di satu gelombang fluid kemanusiaan yang harmonis dan penuh tenggang rasa. Bahkan, balita dan anak kecil pun tahu bahwa mereka harus menahan diri di ruang publik. Selama lima hari kami di Tokyo, tidak satu pun kami melihat ada anak kecil menangis atau berlarian dengan brutal seperti di tanah air. Aku mau adopsi bayi dari Jepang saja deh, kataku ke Si Adik. Tentu saja, populasi masa depan Jepang memang tiap tahun makin berkurang sehingga tidak mungkin mereka mau “mengekspor” bayinya keluar.  Anyway, intinya adalah bahkan anak kecil pun sudah tahu bagaimana harus bersikap dan menempatkan diri di ruang publik. 


Belum lagi, fashion style para penduduk Tokyo yang sungguh sangat chic. Terasa sekali, mereka memilih pakaian bukan untuk menonjol atau memamerkan. Lupakan lipstik warna-warni gonjreng yang sedang digandrungi perempuan-perempuan sedunia. Perempuan di Tokyo tidak banyak memakai make-up mencolok. “Yang berdandan heboh dan memakai lipstik mencolok itu biasanya turis Korea,” kata Yoko kepadaku sambil tertawa kecil. Si Adik pun jatuh cinta berkali-kali selama di Tokyo. Semuanya tipeku nok, katanya. 

Begitulah, rasanya Tokyo Love Story kami akan terus berlanjut.


0 komentar:

 

Popular Posts

follow my journey

Hello! I’m Eve Tedja

I have been a professional writer for four years.


During that time, I have worked as a permanent contributor for Let’s eat! Magazine, Hello Bali, epicure, and published my articles in several other magazines like Venture, Panorama, Bravacasa, and Bali & Beyond.


Words, sentences, stories... these are my passion. I love to take new challenges in writing for various format and media. I create contents for websites, blogs, and communication materials. I’ve also worked as a copywriter, translator, coffee book editor, social media coordinator, media consultant, and even writing for a specialty coffee packaging.


Interior design, travel, environment, culinary, culture, history, and social issues are some of the themes that I have worked with in the past. I love getting involves with individuals, companies, organizations, and communities with stories to tell.


I am available for assignment worldwide. Reach me at eve(dot)tedja(at)gmail(dot)com.

Category

bali (39) bangkok (1) book (41) china (4) culture (3) food (10) germany (1) hongkong (1) indonesia (16) jakarta (4) japan (3) museum (6) paris (3) penang (2) poem (3) portfolio (5) singapore (1) srilanka (1) traveling (33) vietnam (3) writing (9)