Tokyo Love Story III





Obsesi kekutubukuanku berlanjut. Selain museum, check-list lain adalah mengunjungi toko buku. Tentu saja, Tokyo sebagai ibu kota Jepang memiliki toko buku yang dahsyat. Adalah Daikanyama Tsutaya Books atau T-Siteyang kukunjungi di malam terakhirku di Tokyo. Sebagai kutu buku, kutu film dan kutu musik, Daikanyama T-Site adalah surga. Bayangkan, tiga gedung berasitektur keren yang dipenuhi ribuan buku, majalah, DVD dan CD. Kala toko buku di seluruh dunia tengah gugur satu per satu, Daikanyama dengan lantang seolah melawan dengan elegan bahwa buku dan segala sesuatu yang manual masih di sini untuk ada. 

Yoko dan Emi,dua orang temannya teman yang dengan baik hati memperlihatkan Tokyo kepada kami, ikut berkunjung ke surga itu bersama aku dan Adik. Daikanyama adalah daerah yang anggun, penuh dengan butik berkelas, para yuppie fashionable dan jelas adalah sebuah area yang mahal untuk dihuni. Petang sudah tiba saat kami sampai di gedung itu.Dari jendela-jendela besar, kami bisa melihat orang-orang sibuk bercakap  atau membaca. Mereka yang butuh sendiri tapi tidak ingin sepi. Ada gerai Starbucks yang dipenuhi oleh pemuda dan pemudi yang larut dalam bacaan mereka ditemani dengan hanya satu gelas kopi.

Terdapat tiga bangunan yang masing-masing berlantai dua. Lantai bawah diisi oleh buku, majalah, jurnal dan beragam stationery yang menggoda iman. Lantai atas diisi oleh perpustakaan film dan musik dengan jenis service yang membuatku langsung ingin pindah ke Tokyo saat itu juga. Bagaimana tidak, kamu bisa memilih film dan staffnya bisa langsung mem-burn film dalam format apapun itu ke dalam DVD! Begitu juga untuk musik, konon kata music librarian-nya ada seratus ribu album berbagai genre di sana DAN BISA DIDENGARKAN SECARA GRATIS. Ya, huruf kapital kadang sangat diperlukan dan sungguh, ini bukan emosi berlebihan. 


Belum selesai cerita tentang keajaiban surga ini. Ada bagian stationery dimana kamu bisa membuat monogram yang bisa selesai dalam satu hari. Hal terbaik tentang tempat ini? Buka sampai jam 2 pagi, setiap hari! Ternyata tidak perlu mati dulu untuk mencapai surga. 

Apa itu digital? Memegang buku, membalikkan halamannya dan membacanya perlahan adalah sesuatu yang lebih penting! Mungkin begitu pemikiran Muneaki Masuda, pemilik Tsutaya, sebuah perusahaan yang memiliki ribuan gerai toko buku dan penyewaan film di seantero Jepang. Don’t get me wrong, tentu saja ini adalah sebuah usaha dan sebagai usaha, ia harus menghasilkan uang. Tapi pada kenyataannya kita semua tahu, dari sepuluh orang yang berkunjung ke toko buku, mungkin hanya dua orang yang keluar dengan membeli buku.  Dan, memang sebagai pengunjung, aku tidak merasa tertekan untuk membeli. Semua buku tidak dibungkus plastik, dan ada begitu banyak sudut dimana pembaca bisa duduk untuk membaca seharian atau memasang headset, melongok keluar jendela dan menikmati berbagai alunan musik. Crossover antara toko dan perpustakaan-kah tempat ini? 

Mungkin komentar arsitek Mark Dytham yang mendesain Daikanyama T-Site bisa dengan tepat menggambarkan apa yang sedang coba dilakukan oleh tempat ini:

 “It’s not just the architecture. It’s not just the interior. It’s the content that’s really the thing that drives this and makes you want to come inside. I think this really shows people what can be done ... with books.”

Sungguh, bila kamu adalah seorang pecinta buku, musik atau film dan kamu sedang berencana ke Jepang, bantu dirimu dan singgahilah tempat ini.

0 komentar:

 

Popular Posts

follow my journey

Hello! I’m Eve Tedja

I have been a professional writer for four years.


During that time, I have worked as a permanent contributor for Let’s eat! Magazine, Hello Bali, epicure, and published my articles in several other magazines like Venture, Panorama, Bravacasa, and Bali & Beyond.


Words, sentences, stories... these are my passion. I love to take new challenges in writing for various format and media. I create contents for websites, blogs, and communication materials. I’ve also worked as a copywriter, translator, coffee book editor, social media coordinator, media consultant, and even writing for a specialty coffee packaging.


Interior design, travel, environment, culinary, culture, history, and social issues are some of the themes that I have worked with in the past. I love getting involves with individuals, companies, organizations, and communities with stories to tell.


I am available for assignment worldwide. Reach me at eve(dot)tedja(at)gmail(dot)com.

Category

bali (39) bangkok (1) book (41) china (4) culture (3) food (10) germany (1) hongkong (1) indonesia (16) jakarta (4) japan (3) museum (6) paris (3) penang (2) poem (3) portfolio (5) singapore (1) srilanka (1) traveling (33) vietnam (3) writing (9)